Rabu, 06 April 2011

DMI dan BUKU REFERENSI


DMI DAN BUKU REFERENSI

Oleh : Drs. H. Teguh Sunaryo
Direktur DMI Primagama


1. Statment Prof. Dr. Winarno Surakhmad, M.Sc., Ed. :

Secara sederhana, berfilosofi berarti bertanya, tujuan bertanya adalah mencari kebenaran. Berfilosofi adalah kegiatan sehari-hari, yang dapat terjadi dimana saja, kapan saja, oleh siapa saja. Untuk berfilosofi, kita tidak perlu terikat oleh definisi akademik.   (Prof. Dr. Winarno Surakhmad, M.Sc., Ed., Pendidikan Nasional Strategi dan Tragedi, Penerbit Kompas Jakarta Juli 2009, hal 34-35)

Kurikulum yang menjebak ternyata menjadi daya halang yang menyebabkan guru tidak dapat secara optimal melaksanakan apa yang diharapkan dari mereka. Bahkan tidak mustahil birokrasi dan penyusun kurikulum pun dapat terjebak sendiri oleh ciptaannya. (Prof. Dr. Winarno Surakhmad, M.Sc., Ed., Pendidikan Nasional Strategi dan Tragedi, Penerbit Kompas Jakarta Juli 2009, hal 66)

Kurikulum sebuah solusi yang bermasalah dipengaruhi oleh sedikitnya empat faktor yaitu : a) faktor yang bersumber dari birokrasi, terutama ada harapan dan perlakuan yang berlebihan di kalangan birokrat  mengenai peran kurikulum; b) faktor yang bersumber dari penyusun kurikulum, terutama karena lemahnya dasar-dasar filosofis dan psikologis dalam penjabaran program kurikulum; c) faktor yang bersumber dari pelaksana kurikulum, terutama karena tingkat kompetensi dan profesionalisme yang kurang mendukung di kalangan para guru; d) faktor yang bersumber dari ekosistem pendidikan, terutama karena tidak kuatnya dukungan sosial dan ketersediaan infrastruktur pendidikan.   (Prof. Dr. Winarno Surakhmad, M.Sc., Ed., Pendidikan Nasional Strategi dan Tragedi, Penerbit Kompas Jakarta Juli 2009, hal 67-68)

Kurikulum berpotensi menjebak karena kurikulum : a) diperlakukan lebih penting dari guru, b) diperlakukan sebagai sumber lengkap pengetahuan, c) diperlakukan sebagai program baku yang berpotensi universal, d) diperlakukan sebagai potensi utama dalam meningkatkan kualitas, e) sebagai strategi untuk melestarikan masa lalu. (Prof. Dr. Winarno Surakhmad, M.Sc., Ed., Pendidikan Nasional Strategi dan Tragedi, Penerbit Kompas Jakarta Juli 2009, hal 73-76)
Sejarah perkembangan pendidikan di Indonesia merekam, tidak sedikit usaha pemerintah membarui pendidikan dengan sejumlah konsep dan praksis modern yang diambil dari begitu banyak sumber dari luar negri. Kebijakan pembaruan itu kemudian dosisialisasikan, ditatarkan, dilembagakan, didanai, dipertahankan, diujicobakan, bahkan diintruksikan, dan tentu saja diproyekkan. Tidak ada usaha perubahan yang melahirkan perubahan yang menetap. Semua menjadi rangkaian kegiatan yang berakhir dengan tragis, kalau tidak lebih dahulu mati tanpa bekas di tengah jalan: belum ada perubahan yang signifikan. (Prof. Dr. Winarno Surakhmad, M.Sc., Ed., Pendidikan Nasional Strategi dan Tragedi, Penerbit Kompas Jakarta Juli 2009, hal 92)

Pendidikan nasional telah terperangkap di dalam sebuah orbit kegagalan dimana setiap usaha pendidikan seakan-akan ”ditakdirkan” untuk gagal. Visi Indonesia ke depan sudah tidak perperan. (Prof. Dr. Winarno Surakhmad, M.Sc., Ed., Pendidikan Nasional Strategi dan Tragedi, Penerbit Kompas Jakarta Juli 2009, hal 127)

Orbit kegagalan melahirkan birokrasi yang kehilangan kepekaan terhadap pengembangan pendidikan sebagai penghargaan tertinggi terhadap nilai kemanusiaan di dunia. Pola pendekatan birokrasi seperti itu lebih cenderung berlindung dibalik peraturan yang baku. Kekuatan ini cenderung menjadi ”pembunuh berdarah dingin” Sistem dan pola birokrasi serupa ini hanya ’mampu” melahirkan masalah yang semakin menumpuk, jauh melebihi kemampuan memecahkan masalah. (Prof. Dr. Winarno Surakhmad, M.Sc., Ed., Pendidikan Nasional Strategi dan Tragedi, Penerbit Kompas Jakarta Juli 2009, hal 129)

Pendidikan nasional adalah masalah nasional. Artinya ini bukan masalah ”orang pendidikan saja”, tetapi masalah bersama yang harus dihadapi secara bersama.   (Prof. Dr. Winarno Surakhmad, M.Sc., Ed., Pendidikan Nasional Strategi dan Tragedi, Penerbit Kompas Jakarta Juli 2009, hal 143)

Pendidikan nasional dari sudut kepentingan siapa ? (Prof. Dr. Winarno Surakhmad, M.Sc., Ed., Pendidikan Nasional Strategi dan Tragedi, Penerbit Kompas Jakarta Juli 2009, hal 187)

2. Statment Prof. Dr. Soedijarto, M.A. :

Seluruh rakyat harus menjadi warga negara suatu bangsa yang modern yang maknanya adalah warga negara yang rasional, demokratis, dan berorientasi kepada Iptek dalam mengatasi masalah kehidupan sosial, ekonomi, dan politiknya. (Prof. Dr. Soedijarto, M.A., Landasan dan Arah Pendidikan Nasional kita, Penerbit Kompas Jakarta Juli 2008, hal 72)

Melalui sistem persekolahan yang modern dan bermutu akan lahir generasi baru dalam Indonesia merdeka yang ”cerdas” dan ”berkarakter”. (Prof. Dr. Soedijarto, M.A., Landasan dan Arah Pendidikan Nasional kita, Penerbit Kompas Jakarta Juli 2008, hal 73)

Sejarah dunia juga membuktikan bahwa negara-negara kebangsaan di dunia, yang kemudian menjadi negara maju seperti AS, Britania raya, Jerman, Perancis, Belanda, dan Jepang, adalah negara-negara yang telah mendudukkan pendidikan sebagai bagian terpadu dari pembangunan bangsanya. (Prof. Dr. Soedijarto, M.A., Landasan dan Arah Pendidikan Nasional kita, Penerbit Kompas Jakarta Juli 2008, hal 94-95)

Sekolah sebagai lembaga pendidikan yang bersifat massal, muncul bersamaan dengan proses industrialisasi yang mengakibatkan terjadinya urbanisasi, vokasionalisasi, spesialisasi, serta mendorong orangtua meninggalkan anak untuk bekerja. Akibatnya orangtua tidak memiliki waktu untuk mendidik ank-anaknya. Karena itulah diperlukan suatu lembaga pendidikan yang khusus menyiapkan generasi muda untuk menghadapi tuntutan baru masyarakat modern. (Prof. Dr. Soedijarto, M.A., Landasan dan Arah Pendidikan Nasional kita, Penerbit Kompas Jakarta Juli 2008, hal 95)

Hampir tidak ada negara demokrasi di dunia, terutama di Amerika Utara, Eropa, dan negara asia seperti Malaysia, Singapura, Korea Selatan, Jepang dan Taiwan, yang dalam melaksanakan kewajiban belajar membebani orangtua murid/ pelajar untuk membayar pendidikan anaknya. Karena itu, Deklarasi HAM menetapkan bahwa pelaksanaan wajib belajar tidak dipungut biaya. (Prof. Dr. Soedijarto, M.A., Landasan dan Arah Pendidikan Nasional kita, Penerbit Kompas Jakarta Juli 2008, hal 98)

Unesco memperkenalkan empat pilar belajar, yaitu : Learning to know, Learning to do, Learning to live togehter, dan Learning to be. (Prof. Dr. Soedijarto, M.A., Landasan dan Arah Pendidikan Nasional kita, Penerbit Kompas Jakarta Juli 2008, hal 130)


3. Statment Prof. Dr. Prayitno, M.Sc., Ed. :

Harkat dan Martabat Manusia (HMM) inilah yang benar-benar membedakan manusia dari makhluk-makhluk lainnya. Di seluruh alam semesta. (Prof. Dr. Prayitno, M.Sc., Ed., Dasar Teori dan Praksis Pendidikan, Penerbit Grasindo Jakarta 2009, hal 13)

Hakikat manusia adalah makhluk yang beriman dan bertaqwa, makhluk yang paling indah dan sempurna, makhluk yang paling tinggi derajatnya, khalifah di muka bumi, pemilik hak-hak asasi manusia. (Prof. Dr. Prayitno, M.Sc., Ed., Dasar Teori dan Praksis Pendidikan, Penerbit Grasindo Jakarta 2009, hal 14)

Dimensi kemanusiaan meliputi dimensi kefitrahan, dimensi keindividualan, dimensi kesosialan, dimensi kesusilaan, dimensi keberagaman. (Prof. Dr. Prayitno, M.Sc., Ed., Dasar Teori dan Praksis Pendidikan, Penerbit Grasindo Jakarta 2009, hal 15)

Pancadaya meliputi daya taqwa, daya cipta, daya karsa, daya rasa, daya karya. (Prof. Dr. Prayitno, M.Sc., Ed., Dasar Teori dan Praksis Pendidikan, Penerbit Grasindo Jakarta 2009, hal 19)

Trilogi HMM meliputi hakikat manusia, dimensi kemanusiaan, dan pancadaya. (Prof. Dr. Prayitno, M.Sc., Ed., Dasar Teori dan Praksis Pendidikan, Penerbit Grasindo Jakarta 2009, hal 21)

Tujuan pendidikan pada dasarnya tidak lain adalah arah yang hendak dicapai demi terwujudnya tujuan hidup manusia yaitu hidup sesuai harkat dan martabat manusia (HMM). (Prof. Dr. Prayitno, M.Sc., Ed., Dasar Teori dan Praksis Pendidikan, Penerbit Grasindo Jakarta 2009, hal 44)

Pilar pendidikan nasional ialah ing ngarso sung tulodo, ing madyo bangun karso, tutwuri handayani. (Prof. Dr. Prayitno, M.Sc., Ed., Dasar Teori dan Praksis Pendidikan, Penerbit Grasindo Jakarta 2009, hal 58)

Dengan kasih sayang : potensi anak berkembang, harapan terbayang, semangat terpacu untuk berjuang. Dengan kasih sayang : harga diri anak tersanjung, aspirasi mereka membumbung, beban-beban mereka terdukung. Dengan kasih sayang : masa depan terarah, harapan menjadi cerah, hidup terasa bergairah. Dengan kasih sayang : perjalanan hidup terisi, hubungan tanpa basa basi, masalah-masalah teratasi. Dengan kasih sayang : hambatan dan kesulitan terhadang, kesedihan melayang, amarah menghilang. (Prof. Dr. Prayitno, M.Sc., Ed., Dasar Teori dan Praksis Pendidikan, Penerbit Grasindo Jakarta 2009, hal 121-122)

Ada dua jenis penguatan, yaitu penguatan positif dan penguatan negatif. Arah dan tujuan kedua jenis penguatan itu sama, yaitu mendorong lebih kuatnya tingkah laku. Penguatan positif diselenggarakan dengan jalan memberikan hal-hal positif berupa pujian, hadiah, atau hal-hal lain yang berharga kepada pelaku tingkah laku yang dianggap baik dan ingin ditingkatkan frekuensi penampilannya. (Prof. Dr. Prayitno, M.Sc., Ed., Dasar Teori dan Praksis Pendidikan, Penerbit Grasindo Jakarta 2009, hal 139)

Belajar merupakan proses perubahan tingkah laku individu yang diperoleh melalui pengalaman; melalui proses stimulus-respon; melalui pembiasaan; melalui peniruan; melalui pemahaman dan penghayatan; melalui aktivitas individu meraih sesuatu yang dikehendaki. (Prof. Dr. Prayitno, M.Sc., Ed., Dasar Teori dan Praksis Pendidikan, Penerbit Grasindo Jakarta 2009, hal 203)

Hasil belajar dirumuskan sebagai tahu, bisa, mau, terbiasa (disingkat TBMTb). (Prof. Dr. Prayitno, M.Sc., Ed., Dasar Teori dan Praksis Pendidikan, Penerbit Grasindo Jakarta 2009, hal 204)

Bakat merupakan kemampuan potensial dalam bidang-bidang tertentu (ilmu pengetahuan, teknologi, seni, bahasa, filsafat, penampilan/ performan) yang secara khusus dimiliki oleh seorang individu. Bakat adalah milik istimewa seseorang. (Prof. Dr. Prayitno, M.Sc., Ed., Dasar Teori dan Praksis Pendidikan, Penerbit Grasindo Jakarta 2009, hal 211)

Pada diri setiap individu ada potensi, dan potensi itu dapat berbeda anatar individu yang satu dan individu lainnya (individual differences). Perbedaan individu itu dapat menyangkut kualitas potensi pancadaya (taqwa, cipta, rasa, karsa, karya), bakat, dan kondisi fisik. (Prof. Dr. Prayitno, M.Sc., Ed., Dasar Teori dan Praksis Pendidikan, Penerbit Grasindo Jakarta 2009, hal 213)

Dewasa ini, potensi kemanusiaan dikenal dengan berbagai istilah, seperti kemampuan dasar umum atau inteligensi, kemampuan dasar khusus atau bakat, minat atau arah penyikapan. (Prof. Dr. Prayitno, M.Sc., Ed., Dasar Teori dan Praksis Pendidikan, Penerbit Grasindo Jakarta 2009, hal 244)

Pengertian bakatpun berkembang ke arah bakat jamak dengan rumusan seperti : bakat seni, bakat verbal, bakat matematik/ numerikal, bakat mekanikal, bakat olahraga, bakat akademik, dll. (Prof. Dr. Prayitno, M.Sc., Ed., Dasar Teori dan Praksis Pendidikan, Penerbit Grasindo Jakarta 2009, hal 245)

Transformasi potensi melalui upaya pendidikan dapat berupa : Wawasan, Pengetahuan, Ketrampilan, Nilai dan Sikap (disingkat WPKNS). (Prof. Dr. Prayitno, M.Sc., Ed., Dasar Teori dan Praksis Pendidikan, Penerbit Grasindo Jakarta 2009, hal 247)

Pendidikan adalah upaya memuliakan kemanusiaan manusia , tujuan pendidikan sepenuhnya mengacu kepada seluruh komponen harkat dan martabat manusia (HMM). (Prof. Dr. Prayitno, M.Sc., Ed., Dasar Teori dan Praksis Pendidikan, Penerbit Grasindo Jakarta 2009, hal 279)

Kurikulum adalah sejumlah mata pelajaran yang diikuti peserta didik, atau apa yang dialami seorang di tempat ia belajar. (Prof. Dr. Prayitno, M.Sc., Ed., Dasar Teori dan Praksis Pendidikan, Penerbit Grasindo Jakarta 2009, hal 280)

UU. No 20 tahun 2003, pasal 1 butir 19 : Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. (Prof. Dr. Prayitno, M.Sc., Ed., Dasar Teori dan Praksis Pendidikan, Penerbit Grasindo Jakarta 2009, hal 280)

Kompetensi merupakan wujud dari kekuatan seseorang dalam hal tertentu atau kemampuan seseorang melakukan satuan kegiatan yang dapat segera diwujudkan untuk memenuhi keperluan tertentu. (Prof. Dr. Prayitno, M.Sc., Ed., Dasar Teori dan Praksis Pendidikan, Penerbit Grasindo Jakarta 2009, hal 283)

Intisari harkat martabat manusia (HMM) adalah 5 i yaitu : Iman, Inisiatif, Industri, Individu, dan Interaksi. (Prof. Dr. Prayitno, M.Sc., Ed., Dasar Teori dan Praksis Pendidikan, Penerbit Grasindo Jakarta 2009, hal 315)

Lima bentuk pembelajaran yaitu : Penyajian, Tanya jawab, Penugasan, Pencarian/ Penemuan, Pemerolehan Pengalaman. (Prof. Dr. Prayitno, M.Sc., Ed., Dasar Teori dan Praksis Pendidikan, Penerbit Grasindo Jakarta 2009, hal 330-333)

Standar Prosedur Operasional (SPO) Pembelajaran adalah serangkaian langkah yang dianggap benar (menurut kriteria yang ditetapkan) dan diselenggarakan dengan urutan yang tepat (sistematis) untuk mencapai tujuan tertentu yang telah ditetapkan. (Prof. Dr. Prayitno, M.Sc., Ed., Dasar Teori dan Praksis Pendidikan, Penerbit Grasindo Jakarta 2009, hal 357)

Enam Muatan Satuan Pembelajaran meliputi : Tujuan pembelajaran, Materi pembelajaran, Waktu pembelajaran, Bentuk pembelajaran, Alat bantu pembelajaran, dan Program penilaian. (Prof. Dr. Prayitno, M.Sc., Ed., Dasar Teori dan Praksis Pendidikan, Penerbit Grasindo Jakarta 2009, hal 359)
Triguna hasil pembelajaran yaitu : Makna guna, Daya guna, dan Karya guna. (Prof. Dr. Prayitno, M.Sc., Ed., Dasar Teori dan Praksis Pendidikan, Penerbit Grasindo Jakarta 2009, hal 434)

Kaidah paling pokok pendidikan dengan ilmu pendidikan (PENDIP) adalah : Basis ilmu pendidikan adalah Harkat dan martabat manusia (HMM); Paradigma pendidikan adalah memuliakan kemanusiaan manusia; Tujuan pendidikan adalah berorientasi kepada HMM; Pengertian belajar adalah upaya menguasai sesuatu yang baru; Ideologi pembelajaran adalah (5i) Iman, Inisiatif, Industri, Individu, dan Interaksi; Paradigma pembelajaran (DCT) Dapat, Catat, Terap; Pendidikan profesional adalah Komitmen, Dedikasi, dan Tanggungjaab; Hasil pembelajaran adalah Makna guna, Daya guna, dan Karya guna. (Prof. Dr. Prayitno, M.Sc., Ed., Dasar Teori dan Praksis Pendidikan, Penerbit Grasindo Jakarta 2009, hal 454-455)

4. Statment Prof. Dr. Utami Munandar :

Tujuan pendidikan pada umumnya ialah menyediakan lingkungan yang memungkinkan anak didik untuk mengembangkan bakat dan kemampuannya secara oprimal, sehingga ia dapat mewujudkan dirinya dan berfungsi sepenuhnya, sesuai dengan kebutuhan pribadinya dan kebutuhan masyarakat. Setiap orang mempunyai bakat dan kemampuan yang berbeda-beda dan karena itu membutuhkan pendidikan yang berbeda-beda pula. Pendidikan bertanggungjawab untuk memandu (yaitu mengidentifikasi dan membina) serta memupuk (yaitu mengembangkan dan meningkatkan) bakat tersebut, termasuk dari mereka yang berbakat istimewa atau memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa. (Prof. Dr. Utami Munandar, Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat, Penerbit Rineka Cipta Jakarta September 2004, Cetakan kedua, hal 6)
Dulu orang biasanya mengartikan ”anak berbakat” sebagai anak yang memiliki tingkat kecerdasan (IQ) yang tinggi. Namun sekarang makin disadari bahwa yang menentukan keberbakatan bukan hanya inteligensi (kecerdasan) melainkan juga kreativitas dan motivasi untuk berprestasi (definisi Renzulli tentang keberbakatan, 1981). (Prof. Dr. Utami Munandar, Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat, Penerbit Rineka Cipta Jakarta September 2004, Cetakan kedua, hal 6)

Milgram (1990) menekankan bahwa inteligensi atau IQ semata-mata tidak dapat meramalkan kreativitas dalam kehidupan nyata. (Prof. Dr. Utami Munandar, Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat, Penerbit Rineka Cipta Jakarta September 2004, Cetakan kedua, hal 9)

Menurut Cropley (1994) keberbakatan yang sungguh-sungguh merupakan gabungan antara kemampuan konversional (ingatan baik, berpikir logis, pengetahuan faktual, kecermatan, dan sebagainya) dan kemampuan kreatif (menciptakan gagasan, mengenal kemungkinan alternatif, melihat kombinasi yang tidak diduga, memiliki keberanian untuk mencoba sesuatu yang tidak lazim, dan sebagainya). (Prof. Dr. Utami Munandar, Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat, Penerbit Rineka Cipta Jakarta September 2004, Cetakan kedua, hal 9)

Kemampuan kreatif seseorang sering begitu ditekan oleh pendidikan dan pengalamannya sehingga ia tidak dapat mengenali potensi sepenuhnya, apalagi mewujudkannya. (Prof. Dr. Utami Munandar, Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat, Penerbit Rineka Cipta Jakarta September 2004, Cetakan kedua, hal 11)

Pengembangan potensi pembawaan ini akan paling mudah dan paling efektif jika dimulai sejak usia dini. (Prof. Dr. Utami Munandar, Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat, Penerbit Rineka Cipta Jakarta September 2004, Cetakan kedua, hal 13)

Dari sejarah tokoh-tokoh yang unggul dalam bidang tertentu ternyata memang ada diantara mereka yang semasa kecil atau sewaktu di bangku sekolah tidak dikenal sebagai seorang yang menonjol dalam prestasi sekolah, namun mereka berhasil dalam hidup. (Prof. Dr. Utami Munandar, Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat, Penerbit Rineka Cipta Jakarta September 2004, Cetakan kedua, hal 15)

Rodhes menyebut kreativitas dengan pendekatan 4 P adalah Person (Pribadi) kreatif, Process (Proses) kreatif, Press (Pendorong) kreatif dan akan menghasilkan Product (Produk) kreatif . (Prof. Dr. Utami Munandar, Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat, Penerbit Rineka Cipta Jakarta September 2004, Cetakan kedua, hal 20)

Inteligensi meliputi terutama kemampuan verbal, pemikiran lancar, pengetahuan, perencanaan, perumusan masalah, penyusunan strategi, representasi mental, ketrampilan pengambilan keputusan, dan keseimbangan serta integrasi intelektual secara umum. (Prof. Dr. Utami Munandar, Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat, Penerbit Rineka Cipta Jakarta September 2004, Cetakan kedua, hal 20)

Anak berbakat adalah mereka yang oleh orang-orang profesional diidentifikasi sebagai anak yang mampu mencapai prestasi yang tinggi karena mempunyai kemampuan-kemampuan yang unggul. (Prof. Dr. Utami Munandar, Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat, Penerbit Rineka Cipta Jakarta September 2004, Cetakan kedua, hal 23)

Konsep Renzulli tentang keberbakatan meliputi kemampuan umum ditas rata-rata, kreativitas diatas rata-rata, dan pengikatan diri terhadap tugas. (Prof. Dr. Utami Munandar, Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat, Penerbit Rineka Cipta Jakarta September 2004, Cetakan kedua, hal 24)

Wallach (1976) pun menunjukkan bahwa mencapai skor tertinggi pada tes akademis belum tentu mencerminkan potensi untuk kinerja kreatif / produktif. (Prof. Dr. Utami Munandar, Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat, Penerbit Rineka Cipta Jakarta September 2004, Cetakan kedua, hal 25)


Enam bidang keberbakatan menurut USOE (U.S. Office of Education) adalah bakat intelektual umum, bakat akademis khusus, bakat kreatif produktif, bakat seni, bakat psikososial atau memimpin, bakat psikomotor. (Prof. Dr. Utami Munandar, Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat, Penerbit Rineka Cipta Jakarta September 2004, Cetakan kedua, hal 28)

Kreativitas adalah ungkapan (ekspresi) dari keunikan individu dalam interaksi dengan lingkungannya. Ungkapan kreatif ialah yang mencerminkan orisinalitas dari individu tersebut. Dari ungkapan pribadi yang unik inilah dapat diharapkan timbulnya ide-ide baru dan produk-produk yang inovatif. Oleh karena itu pendidik hendaknya dapat menghargai keunikan pribadi dan bakat-bakat siswanya (jangan mengharapkan semua melakukan atau menghasilkan hal-hal yang sama, atau mempunyai minat yang sama). Guru hendaknya membantu siswa menemukan bakat-bakatnya dan menghargainya. (Prof. Dr. Utami Munandar, Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat, Penerbit Rineka Cipta Jakarta September 2004, Cetakan kedua, hal 45)


Perlu pula diingat bahwa kurikulum sekolah yang terlalu padat sehingga tidak ada peluang untuk kegiatan kreatif , dan jenis pekerjaan yang monoton, tidak menunjang siswa untuk mengungkapkan dirinya secara kreatif. (Prof. Dr. Utami Munandar, Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat, Penerbit Rineka Cipta Jakarta September 2004, Cetakan kedua, hal 46)

Kurikulum secara umum mencakup semua pengalaman yang diperoleh siswa di sekolah, di rumah, dan di dalam masyarakat dan yang membantunya mewujudkan potensi-potensinya. (Prof. Dr. Utami Munandar, Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat, Penerbit Rineka Cipta Jakarta September 2004, Cetakan kedua, hal 138)


Psikolog, guru BP atau pengelola program anak berbakat  sebaiknya : a) mamapu melakukan pengukuran / pengetesan, b) memahami berbagai gaya belajar dan motivasi, c) menguasai teori belajar perilaku, dan d) mengenal karakteristik khusus dari anak berbakat dan kreatif. (Prof. Dr. Utami Munandar, Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat, Penerbit Rineka Cipta Jakarta September 2004, Cetakan kedua, hal 248)

5. Statment Prof. Dr. Conny Semiawan :

Keberbakatan merupakan sifat yang inheren dalam kehidupan individual seseorang. (Prof. Dr. Conny Semiawan, Perspektif Pendidikan Anak Berbakat, Penerbit Grasindo Jakarta Januari 2008, Cetakan keenam, hal 10)

Setiap orang memang dilahirkan dengan berbagai bakat yang berbeda-beda. Bakat adalah kemampuan yang merupakan sesuatu yang ”inherent” dalam diri seseorang, dibawa sejak lahir dan terkait dengan struktur otak. Secara genetis struktur otak memang telah terbentuk sejak lahir, tetapi berfungsinya otak itu sangat ditentukan oleh caraanya lingkungan berinteraksi dengan anak manusia itu. (Prof. Dr. Conny Semiawan, Perspektif Pendidikan Anak Berbakat, Penerbit Grasindo Jakarta Januari 2008, Cetakan keenam, hal 11)

Pengertian inteligensi sebagai ”kombinasi sifat-sifat manusia yang mencakup kemampuan untuk pemahaman terhadap hubungan yang kompleks; semua proses yang terlibat dalam berpikir abstrak; ” dan ”kemampuan untuk memperoleh kemampuan baru”. (Prof. Dr. Conny Semiawan, Perspektif Pendidikan Anak Berbakat, Penerbit Grasindo Jakarta Januari 2008, Cetakan keenam, hal 11-12)

Potensi kemampuan manusia yang mana yang akan menjadi pemeran utama dalam menemukenali masa depan yang harus ditemukan, dipersiapkan atau dihindari. (Prof. Dr. Conny Semiawan, Perspektif Pendidikan Anak Berbakat, Penerbit Grasindo Jakarta Januari 2008, Cetakan keenam, hal 22-23)

Oleh karena itu, perkembangan ilmu yang tidak begitu cepat terjadi memerlukan pendekatan baru dalam pembelajarannya untuk menemukenali masa depan yang harus dihindari ataupun perlu disiapkan. (Prof. Dr. Conny Semiawan, Perspektif Pendidikan Anak Berbakat, Penerbit Grasindo Jakarta Januari 2008, Cetakan keenam, hal 23-24)

Keberbakatan itu adalah ciri-ciri universal yang khusus dan luar biasa yang dibawa sejak lahir dan merupakan hasil interaksi dari pengaruh lingkungan. (Prof. Dr. Conny Semiawan, Perspektif Pendidikan Anak Berbakat, Penerbit Grasindo Jakarta Januari 2008, Cetakan keenam, hal 25)

Meskipun Terman dalam meneliti keberbakatan yang mencakup sekitar 1.500 orang menggunakan alat ukur IQ, ternyata dalam perkembangannya IQ ini seperti juga terpaparkan dalam bab sebelumnya, memiliki banyak keterbatasan sebagai skor umum tunggal (overall single score), yang oleh Anastasi (1990) dianggap bukan memaksimalkan kemampuan individu dalam ekspresinya, melainkan meminimalkannya. (Prof. Dr. Conny Semiawan, Perspektif Pendidikan Anak Berbakat, Penerbit Grasindo Jakarta Januari 2008, Cetakan keenam, hal 44)

Charles Spearman, orang Inggris, menemukan adanya dua faktor utama, yaitu faktor g (general) dan faktor s (specipic). Menurut Spearman inteligensi terdiri dari dua faktor, yaitu (1) faktor g yang mencakup semua kegiatan intelektual yang dimiliki oleh setiap orang dalam berbagai derajat tertentu. (2) faktor s yang mencakup berbagai faktor khusus tertentu yang relevan dengan tugas tertentu. Menurut Spearman, faktor g lebih banyak mewakili segi genetis dan faktor s lebih banyak diperoleh melalui pelatihan dan pendidikan. (Prof. Dr. Conny Semiawan, Perspektif Pendidikan Anak Berbakat, Penerbit Grasindo Jakarta Januari 2008, Cetakan keenam, hal 44-45)


Kemampuan utama dalam pengukuran inteligensi menurut Thurstone : Verbal comprehension (V) yang berarti pengertian verbal yang bisa diukur melalui subtes faham baca dan perbendaharaan kata; Number (N) yang diukur melalui soal-soal berhitung; Spatial relation (S) yang diukur melalui manipulasi lambang geometris; Work fluency (W) yang diukur melalui respon cepat kata-kata; Memory (M) yang diukur melalui ingatan kata-kata yang saling berhubungan; dan Reasoning (R) yang diperoleh melalui tes berbagai analogi atau seri melengkapi kalimat atau pola tertentu (Khatena, 1992). (Prof. Dr. Conny Semiawan, Perspektif Pendidikan Anak Berbakat, Penerbit Grasindo Jakarta Januari 2008, Cetakan keenam, hal 45)

6. Statment H. Yul Iskandar., MD., DSJ., MBAP., MASRS., Ph.D. :

Bakat adalah suatu karakteristik unik individu yang membuatnya mampu (tidak mampu) melakukan suatu aktivitas dan tugas secara mudah (atau sulit) dan sukses (atau tak pernah sukses). (H. Yul Iskandar., MD., DSJ., MBAP., MASRS., Ph.D., Test bakat, Minat, Sikap & Personality MMPI-DG, Penerbit Yayasan Dharma Graha Jakarta Juli 2000, Cetakan perdana, hal 7)

Dari segi biologi maka bakat sangat berhubungan dengan fungsi otak. Seperti kita ketahui kita mempunyai otak kiri dan otak kanan. (H. Yul Iskandar., MD., DSJ., MBAP., MASRS., Ph.D., Test bakat, Minat, Sikap & Personality MMPI-DG, Penerbit Yayasan Dharma Graha Jakarta Juli 2000, Cetakan perdana, hal 8)

Minat adalah usaha dan kemauan untuk mempelajari (learning) dan mencari sesuatu. (H. Yul Iskandar., MD., DSJ., MBAP., MASRS., Ph.D., Test bakat, Minat, Sikap & Personality MMPI-DG, Penerbit Yayasan Dharma Graha Jakarta Juli 2000, Cetakan perdana, hal 9)

Sikap adalah suatu trait yang selain aktif mempelajarinya, tetapi telah ditambah dengan perubahan perilaku yang sesuai dengan sikapnya. Sikap pada umumnya merupakan hasil dari learning dan praktis dan pula hasil dari perpaduan berbagai trait dan ability. (H. Yul Iskandar., MD., DSJ., MBAP., MASRS., Ph.D., Test bakat, Minat, Sikap & Personality MMPI-DG, Penerbit Yayasan Dharma Graha Jakarta Juli 2000, Cetakan perdana, hal 9)



7. Statment Prof. Dr. Reni Akbar Hawadi :

Penggunaan skor IQ semata di dalam membatasi keberbakatan sudah kuno. Para pakar menyadari, ternyata bukan hanya potensi inteligensi saja yang membuat seseorang dianggap berbakat, masih ada faktor-faktor lain. Pendekatan baru ini dikenal dengan pendekatan multidimensional. (Prof. Dr. Reni Akbar Hawadi, Psikologi Perkembangan Anak, Penerbit Grasindo Jakarta Maret 2008, Cetakan ketujuh, hal 119)

Yoseph Renzulli (1981) menyebutkan bahwa seseorang disebut berbakat , unggul atau luar biasa dibandingkan teman-temannya jika di dalam dirinya memiliki tiga aspek yaitu : taraf inteligensi di atas rata-rata, kreativitas yang cukup, dan pengikat diri terhadap tugas. (Prof. Dr. Reni Akbar Hawadi, Psikologi Perkembangan Anak, Penerbit Grasindo Jakarta Maret 2008, Cetakan ketujuh, hal 119)

Apakah setiap manusia memiliki bakat ? Ya, setiap manusia memiliki bakat, namun bakat sebagai potensi harus dikembangkan menjadi prestasi dan menjadi suatu kenyataan. (Prof. Dr. Reni Akbar Hawadi, Psikologi Perkembangan Anak, Penerbit Grasindo Jakarta Maret 2008, Cetakan ketujuh, hal 125)

Mengembangkan bakat anak memang memerlukan ketelatenan, kesabaran yang ekstra sebab memerlukan proses dan tidak mendadak bisa. (Prof. Dr. Reni Akbar Hawadi, Psikologi Perkembangan Anak, Penerbit Grasindo Jakarta Maret 2008, Cetakan ketujuh, hal 127)

Pada intinya, definisi dari United States Office of Education (USOE) menekankan bahwa anak berbakat adalah anak yang mampu membuktikan adanya kemampuan yang tinggi dalam bidang intelektual, kreatif, artistik, kepemimpinan maupun akademik khusus lainnya yang pelayanannya  tidak dipenuhi secara biasa oleh pihak sekolah. (Prof. Dr. Reni Akbar Hawadi, Psikologi Perkembangan Anak, Penerbit Grasindo Jakarta Maret 2008, Cetakan ketujuh, hal 132)


8. Statment Judy Galbraith, M.A., dan Jim Delisle, Ph.D. :

”Keberbakatan dapat dijabarkan sebagai kemampuan untuk memecahkan masalah-masalah dengan cara yang efektif, efisien, elegan, dan ekonomis. Dengan definisi ini, individu yang berbakat adalah seseorang yang dapat menggunakan pengetahuan yang ada bila diperlukan dan dapat menggunakan metode yang diketahui saat diperlukan, dan karenya dapat mencapai solusi berdasarkan pengetahuan dan metode terbaik yang tersedia. Meskipun begitu, individu yang berbakat dapat juga mengabaikan pengetahuan dan konsep yang ada, menjabarkan ulang masalah, membuat metode baru dan mendapatkan solusi yang sama sekali berbeda”.  (Judy Galbraith, M.A., dan Jim Delisle, Ph.D., Buku Pintar Remaja Berbakat, Penerbit Esensi Jakarta Desember 2006, hal 9)

”Tanggungjawab terbesar kita, pada akhirnya, tak terhindarkan lagi, adalah mengelola potensi kita menjadi segala hal yang kita bisa” (Marilyn Ferguson dalam Judy Galbraith, M.A., dan Jim Delisle, Ph.D., Buku Pintar Remaja Berbakat, Penerbit Esensi Jakarta Desember 2006, hal 20)


9. Statment Prof. Dr. Reni Akbar Hawadi, Psikolog :

Kelompok kerja pengembangan pendidikan anak berbakat, 1986 : ”Anak berbakat ialah mereka yang oleh orang profesional diidentifikasi sebagai anak yang mampu mencapai prestasi tinggi karena mempunyai kemapuan-kemampuan yang telah nyata (terwujud), meliputi kemampuan berpikir kreatif produktif, kemampuan psikososial, kemampuan seni, dan kemampuan psikomotorik/ kinestetik. (Prof. Dr. Reni Akbar Hawadi, Psikolog, Menguatkan bakat Anak, Penerbit Grasindo Jakarta 2010, hal 17)


Tulisan ini dipersembahkan oleh :
Manajemen DMI INDONESIA
(Under Lisence Brainy Lab. PTE. LTD. Singapore & Colaboration With Comcare Group Singapore)

Kantor Pusat DMI
GRAHA POGUNG LOR  No : 2 – 4 (Lantai 1)
Jl. Ringroad Utara, Pogung Lor, Yogyakarta
Telp / Fax. :(0274) 625 168

Contact Person :
  • Teguh Sunaryo HP : 085 643 383838 / 088 8686 6464 (Direktur)
  • Isworo Gunarsih  HP : 081 2278 5915 (Sekretaris)
  • Eko Yulianto HP : 081 6680 400 / 085 328 012345 (Kepala Lab dan Teknisi)
  • Nurmey Nurul Chaq HP : 081 5790 2340 (Koordinator Konsultan Psikologi)
  • Bambang Hastobroto HP : 081 2269 3277 (Keuangan)

Info Lebih Detail Lihat Situs : www.dmiprimagama.com